Sumber : Jawaban.com
Johan
Bakri adalah nama pemberian sang ayah. Namun pria ini lebih memilih dipanggil
Aldo karena rasa benci yang begitu besar terhadap sang ayah yang berlaku kasar
dan keras dalam mendidik anak. “Saya marah sama beliau. Saya nggak mau banget
dipanggil sama nama pemberian dia. Saya nggak mau dipanggil Johan, saya lebih
suka dipanggil Aldo,” tuturnya.
Benci dengan sang Ayah
Kebencian
yang paling melekat kuat dibenak seorang Aldo kepada sang ayah adalah ketika
suatu kali diusianya yang ke-5 tahun dia diperlakukan dengan sangat kejam. Saat
itu, Aldo tengah ebrmain bakaran sampah dan tanpa sengaja kakinya terluka
lantaran menginjak sebuah bakar. Sontak dirinya menangis dan menjerit
kesakitan. Sang ayah pun segera keluar rumah dan mulai mendekati dia. Bukannya
menolong dan memperlakukannya seperti anak yang perlu dikasihi, dia malah dihukum.
“Dia
memperlakukan saya dan adik-adik saya itu sangat kasar. Punya papa seperti papa
saya itu suatu tekanan yang luar biasa. Ketika papa pulang, kita merasa sangat
takut, sangat nggak nyaman. Pengena ceppet-ceppet papa pergi lagi deh”.
Sementara
bagi seorang anak kecil seperti Aldo, dia berharap bisa memiliki figure ayah
pada umumnya; penuh kasih dan sayang. Sayangnya, hal itu tidak didapatkan dari
orangtuanya. Akibatnya, Aldo yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu
akhirnya mencarinya di luar rumah. Dia mulai bergaul dengan banyak orang muda
lain yang suka nongkrong dan nge-band.
Aldo mengaku mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan di sana. Perhatian dan kepedulian dari teman-temannya membuatnya nyaman dan betah berada di luar rumah. Haal itulah yang kerap membuat Aldo tidak merindukan rumah sama sekali.
Aldo mengaku mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan di sana. Perhatian dan kepedulian dari teman-temannya membuatnya nyaman dan betah berada di luar rumah. Haal itulah yang kerap membuat Aldo tidak merindukan rumah sama sekali.
Seperti
perumpamaan bahwa ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, begitu pula yang dialami
Aldo. Dalam pergaulannya itu, Aldo berperilaku persis seperti sang ayah. “Cara
saya ngomong ke orang, cara saya marah ke orang seperti papa marah ke saya. Itu
akhirnya menular ke saya. Saya memperlakukan temen-teman saya, kadang-kadang
kalau saya nggak suka, pernah ceweknya temen saya agak ngomong nyakitin hati
saya, trus saya bilang gini ‘Gue pukul loe. Eee gue hantam juga nih’. Saya
megang the botol waktu itu. Trus ceweknya bilang ‘Hantam nih’. Saya hantam
benneran. Nggak pake pikir panjang saya hantam, saya pukul kepalanya. Pecah teh
botol itu,” terang Aldo saat menjelaskan kejadian di masa lalu itu.
Menghadapi masa-masa ekonomi yang
begitu sulit
Di
usia yang masih sangat muda, Aldo pun akhirnya memutuskan untuk menikahi wanita
yang dia cintai, Nani Ria (yang kini menjadi istrinya). Kebahagiaan di awal
pernikahan berakhir sejak Aldo dipecat dari pekerjaannya. Semua hal tampak
berubah. Aldo mulai kasar, berselingkuh dan frustrasi dengan kondisi keuangan
keluarga yang semakin menipis.
“Karena
satu kebutuhan yang sangat mendesak akhirnya saya coba untuk datang ke papa.
Tapi saat itu papa lagi ada tamu. Karna mungkin didukung oleh situasi malu,
marah, udah bosen gitukan, dan saat itu memang kebutuhan saya udah urgent
banget buat anak jadi ayo gue ladenin hari ini,” terangnya.
Saat
itulah Aldo mulai bergulat dengan sang ayah tepat di halaman rumah. Sang ayah
dengan menggenggam sebilah samurai panjang dan Aldo dengan sebuah celurit.
Keduanya pun bertengkar hebat. Hingga saat keduanya merasa kelelahan, air mata
mulai menetes di pipi keduanya.
Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit waktu itu ditambah dengan kabar bahwa sang istri tengah mengandung anak kedua, Aldo harus berjuang keras mencari cara untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Dia seolah tak punya jalan lain selain menjadi pengedar narkoba. Hal ini semakn mudah baginya karena saat itu dirinya pun adalah seorang pecandu narkoba. “Karena keuntungannya besar, kerjanya santai, saya putuskan untuk jualan barkoba”.
Dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit waktu itu ditambah dengan kabar bahwa sang istri tengah mengandung anak kedua, Aldo harus berjuang keras mencari cara untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Dia seolah tak punya jalan lain selain menjadi pengedar narkoba. Hal ini semakn mudah baginya karena saat itu dirinya pun adalah seorang pecandu narkoba. “Karena keuntungannya besar, kerjanya santai, saya putuskan untuk jualan barkoba”.
Dipenjara lalu bertemu dengan Yesus
Mimpi
buruk lainnya pun harus dialami Aldo. Dengan nahasnya, dia ditangkap polisi
saat tengah membawa setumpuk narkoba yang rencananya akan dijual. Aldo pun
mendekap di sel penjara sementara kesulitan ekonomi masih terus menghimpit
kondisi rumah tangganya. Sang istri yang sudah hamil lima bulan ternyata harus
keguguran. Kabar itu membuat Aldo semakin frustrasi. Dalam posisinya yang
begitu sulit waktu itu, dia harus memikul beban yang datang secara bersamaan.
“Saya marah sama Tuhan. Saya bilang, ‘Tuhan tega banget’. Saya pikir gini. Ya
Tuhan pikir aja gitu, istri saya keguguran. Kita butuh uang. Harus masuk rumah
sakit, segala macem. Secara saya juga punya anak satu di luar. Buat saya Tuhan
nggak adil banget!”.
Pertolongan
Tuhan tepat pada waktunya. Ya, itulah yang dialami Aldo dimasa-masa sulit itu.
Lewat sebuah lagu rohani yang didengarnya, hati Aldo tergerak untuk mencari
Tuhan. Aldo pun ikut dalam sebuah ibadah yang digelar di sel penjara. Di sana
dia menerima bahwa ada pribadi yang setia, yaitu Yesus. “Di dalam Ibrani 13
ayat 5 "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku
sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau" Dan itu saya terima dalam hidup
saya. Saya merasakan Tuhan Yesus itu beda. Untuk kita di penjara, Dia itu sudah
betul-betul seperti Bapa kita. Bahkan buat saya pribadi, saya membayangkan ini
Bap ague yang sesungguhnya. Karena apa? Karena Bapa yang benner kayak gitu, Dia
tidak akan meninggalkan saya sekalipun Dia marah, tapi Dia mendidik”.
Ya,
Aldo mengakui dan menerima bahwa Yesus adalah pribadi Bapa yang sesungguhnya.
Lewat sosok Yesus, Aldo berkomitmen memulai hidup yang baru. Dia ingin segala
kemarahan dan kebencian yang selama ini masih tinggal di dalam hatinya selesai,
khususnya harus mengampuni sang Papa. Dengan komitmen itulah Aldo dengan hati
terbuka mau mengampuni sang ayah di akhir-akhir masa hidupnya.
Sejak
itulah ayah dua anak ini dimerdekakan atas kebencian dan kemarahan sejak masa
kecilnya. Kasih Bapa yang dia terima dalam Yesus Kristus mengajarkan Aldo akan
kasih yang sesungguhnya. Keputusan untuk mencoba mengubah hidupnya menjadi
lebih baik akhirnya mengubahkan seluruh aspek hidupnya, mulai dari pemulihan
karakter, kebiasaan lama hingga kondisi keluarga.
0 Response to "Johan Bakri : Kutemukan Kebahagiaan Saat di Luar Rumah"
Post a Comment