Andre Alexander
adalah anak muda yang diasuh sejak kecil hingga kuliah oleh seorang wanita yang
dipanggilnya tante. Saat duduk di bangku kuliah, Andrea mencoba menjalani kehidupan
dengan santai laiknya anak muda lainnya meskipun uang jajan yang diterimanya pas-pasan.
Selain memiliki tante
yang sudah membesarkannya dengan baik, Andre juga punya teman-teman bercanda, tertawa
dan bersenang-senang. Saat bersama dengan teman, bagi Andre, adalah waktu yang membuatnya
merasa bebas menjadi diri sendiri. “Mereka yang mengajarkan saya cara menikmati hidup. Nge-bugs (menghisap ganja,
red),” tutur Andre kepada Solusi.
Kenakalan Andre di
masa mudanya bahkan lebih parah. Bersama teman-temannya, dia mulai mencoba pijat plus-plus. Awalnya, Andre tak pernah menyangka bahwa pijat plus-plus yang dia dapatkan
mampu memuaskan dirinya. Sejak itulah dia semakin kecanduan untuk menikmati pelayanan
pijat plus-plus dan berusaha untuk bisa menikmatinya tanpa terkendala keuangan. “Karena uang jajan saya yang 500 ribu
itu mungkin sangat kurang buat saya, jadi saya memutuskan untuk mencari
pekerjaan, tanpa harus bilang-bilang dulu sama tante yang membiayai saya”.
Andre akhirnya mendapatkan
pekerjaan sebagai sales. Untuk mencapai target penjualan, dia harus berusaha
keras untuk meyakinkan para pembelinya. Dengan komunikasi dan cara kerja yang baik,
dia pada akhirnya bisa mencapai target dan mendapatkan tunjangan dan komisi penuh
dari perusahaan tempatnya bekerja. Ada kebanggaan dalam diri Andre karena sudah
mampu memenuhi kebutuhannya di usia yang terbilang masih muda.
“(Di usia) 19-20
tahun dan saya sudah bisa membeli kendaraan sendiri pakai uang saya untuk
kesenangan pribadi seperti seks, obat, bugs (ganja),” ucap Andre mengenang masa
lalunya itu.
Di
masa-masa kejayaan
itu pula gaya hidup Andre semakin royal. Dia kerap kali mengajak
teman-temannya nongkrong dan menghambur-hamburkan uang dengan
mabuk-mabukan dan nge-bugs bersama. Selain itu, Andre juga
kerap menghabiskan banyak waktu menikmati kesenangan bersama pacarnya, wanita
terapist yang dikenalnya dari pelayanan pijat plus-plus.
Tanpa disadari,
perlahan-lahan kehidupan Andrea semakin tak karuan. Kinerja di kantor semakin
menurun, kerap dikritik atasan, dan mengalami penurunan penjualan. Dari seorang
sales yang dibanggakan, Andre akhirnya mendadak menjadi sosok yang tak lagi
diperhitungkan di kantornya. Tak tahan dengan beragam kritikan yang dialamatkan
kepadanya, Adrea pun memilih untuk berhenti bekerja.
Setelah menganggur,
Andre mulai kesulitan secara keuangan. Segalanya mulai berubah perlahan-lahan. Di
saat kesulitan itulah dia menemukan bahwa tak seorang pun yang mau berada bersama-sama
dengan dia saat masa-masa sulit. Kemewahan hidup yang dia jalani sebelumnya hilang
berangsur-angsur. Ada satu titik kosong yang dirasakan Andre dalam hidupnya, tak
ada harapan dan mimpi dalam hidupnya.
Namun berkat seorang
tetangga, Andre diingatkan untuk kembali mencari Tuhan terlebih dahulu dan menyenangkan
hati Tuhan. Karena dengan itu, Tuhan akan menjamin kehidupannya kembali bangkit,
diisi dan diarahkan untuk tujuan yang benar.
“Saya cari lagu
yang simple. Saat itu saya menyanyi lagu sekolah minggu, “Bapa ku datang padamu..naikkan
ucapan syukur." Nah, begitu bait, begitu masuk reff, “Pagi hari, siang hari,
sore dan malam hari”. Belum kelar satu reff, tiba-tiba saya meneteskan air mata
dan saya nggak bisa stop menangis hari itu. Saya benar-benar ngerasain saya
dijamah Tuhan secara luar biasa. Saya ngerasain bagaimana Tuhan itu memeluk saya
lebih dalam lagi, bagaimana Tuhan itu mengasihi saya, bagaimana Tuhan itu mencintai
hidup saya,” ucap Andre dengan isak tangis.
Sejak
pengalaman
spiritual itu, Andre mulai menyesali perbuatannya yang lama. Dia merasa
begitu
malu di hadapan Tuhan karena telah melakukan perbuatan yang mencemari
kekudusan
hidupnya. Lewat pertobatan itulah Andre berkomitmen untuk menjadi
pribadi yang lebih baik, menyenangkan hati Tuhan dan orang-orang
terdekatnya.
0 Response to "Andre Alexander: Demi Pijat Plus-Plus, Saya Rela Hamburkan Uang"
Post a Comment